TUGAS :
FILSAFAT PENDIDIKAN
“Asal Usul Manusia Ditinjau Dari Al-Qur’an dan Sains”
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah sebagai khalifah allah di
muka bumi, sebagai khalifah. Manusia
mendapat kuasa dan wewenang untuk
melaksanakannya, dengan demikian pendidikan merupakan urusan hidup dan
kehidupan manusia itu sendiri. Untuk mendidik dirinya sendiri, apa hakikat manusia, bagaimana
hakekat hidup dan kehidupannya, apa tujuan hidup dan apa pula tujuan hidupnya.
Filsafat, sebagai daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami,
mendalami dan menyelami secara radikal dan integral sistematis mengenal
ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana hakekatnya yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana
sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu, Hakekat filsafat
selalu menggunakan ratio ( pikiran ) dalam perjalanan hidupnya manusia di
hadapkan pada pengalaman – pengalaman peristiwa alamiah yang ada di sekitarnya.
Istilah filsafat berasal dari dua suku kata dalam bahas Yunani kuno,
yaitu phile atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan Sophia atau Sophos yang berarti kebijaksanaan. Di
zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan special,
akan tetapi suatu cara hidup yang konkret, suatu pandangan hidup yang total
tengtang manusia dan tentang alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang.
Selanjutnya dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problema
yang dihadapinya.
Manusia telah memikirkan tentang asal – usulnya selama beribu – ribu
tahun. Tetapi, sampai belakangan ini, satu – satunya sumber gagasan –
gagasannya adalah pengertian –
pengertian yang diperoleh dari ajaran – ajaran keagamaan dan berbagai sistem
filsafat. Baru pada zaman modern, bersama dengan mengalirnya berbagai jenis
data, ia mampu mendekati masalah asal usulnya dari sudut yang baru.
Kita hidup pada suatu masa yang di dalamnya nalar dan penaklukan oleh
ilmu pegetahuan mengklaim sebagai telah berhasil memberikan jawaban – jawaban
yang logis terhadap seluruh pertanyaan – pertanyaan besar yang diajukan oleh
akal manusia Demikian pula, masalah asal – usul manusia, oleh beberapa orang
telah diajukan terutama sebagai suatu persoalan yang bisa sepenuhnya dijelaskan
oleh ilmu pengetahuan sekuler . On the Origin of Species, karangan Darwin yang
terbit di inggris pada tahun 1859, telah meraih sukses besar, dan selama tahun
– tahun yang mengikutinya, menjadi jelaslah betapa besarnya akibat yang
ditimbulkan suatu teori yang berkenan dengan asal – usul manusia.
Pengertian yang bersifat teoritis seperti yang dilahirkan filsafat
Yunani itu kehilangan kemampuan untuk memberi jawaban yang layak tentang
kebenaran peradaban itu telah menyebabkan manusia melakukan loncatan besar
dalam bidang sains, teknologi, kedokteran dan pendidikan. Perubahan itu
mendorong manusia memikirkan manusia memikirkan kembali pengertian tentang
kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh
terhadap sistem nilai yang berlaku, Karena antara perubahan peradaban dengan
cara berfikir manusia terdapat hubungan timbal balik.
Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya
dengan ilmu – ilmu lain, Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan
dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan –
lahan dari induknya.
1.1 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
pendekatan filosofis dalam memecahkan asal usul manusia
2. Bagaimana
ilmu filsafat menjawab masalah asal usul manusia menurut
sains dan agama.
1.2 Tujuan
Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan
makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas mata kuliah filsafat pendidikan sedangkan
tujuan khusus dari penyusunan makalah ini yaitu :
1. Untuk
mengetahui bagaimana pendekatan filosofis dalam memecahkan asal – usul manusia
2. Untuk
mengetahui bagaimana ilmu filsafat menjawab masalah asal usul menurut sains dan
agama
BAB II
PEMBAHASAN
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semua orang berfikir tetapi tidak
semua orang menjadi filosof. Ungkapan ini sebenarnya menyiratkan bahwa tidak
semua berpikir merupakan kegiatan berfilsafat. Memang berfikir merupakan
kegiatan berfilsafat. Memang berfikir merupakan kegiatan rohani manusia paling
khas, “animale rational’ ungkap Aristoteles yang seolah – olah ingin menyatakan
bahwa manusia itu merupakan hewan yang berakal. Manusia adalah makhluk yang
sangat khas dan unikjika dibandingkan dengan makhluk – makhluk lainnya.Ia selalu
ingin mengetahui segala sesuatu terkait dengan situasi dan realitas yang
dihadapinya, tetapi juga manusia dapat mengembangkan ketrampilan nalarnya
sehingga berkembang berbagai jenis pengetahuan.
Pada mulanya manusia mengembangkan pengetahuannya secara sederhana dan
bersifat umum. Bentuk renungan kefilsafatanawal ini memang masih bersifat
abstrak dan tidak sistematis. Dimulai dari berfikir yang sangat sederhana dan
bersifat umum inilah manusia kemudian mengembangkan berbagai jenis pengetahuan sebagai
mana yang ada sekarang. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian disebutkan
bahwa filsafat meruopakan induk dari segenap pengetahuan yang ada atau mater
scientarium. Namun apakah sebenarnya filsafat itu ?
A. Pengertian
Filsafat
Kata Filsafat padanan dari Bahasa arab falsafah dan Bahasa inggrisnya
philosophy. Kata filsafat sendiri berasal dari Bahasa Yunani Philosophia yakni
gabungan dari kata philos yang artinya cinta, dan Sophos berarti kebijaksanaan.
Secara epitomologi berarti filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan,
kearifan atau pengetahuan.
Menurut Cicero (106 – 43 SM ), penulis Romawi menyatakan bahwa orang
yang pertama memakai kata – kata filsafat adalah Phytagoras ( 582 – 496 SM ),
sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya “Ahli
Pengetahuan”
Sementara Prof. Ir. Pudjawijatna menerangkan bahwa filo artinya cinta
dalam arti seluas – luasnya yaitu ingin dan Karena ingin itu selalu berusaha
mencapai yang diinginkannya, “Sofia” artinya kebijaksanaan artinya pandai,
mengerti dengan mendalam.
Sedangkan, Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti penggunaan kata – kata
filsafat di kalangan umat islam berkesimpulan bahwa kata hikmah dan hakim dalam
Bahasa arab digunakan dalam arti falsafat dan filosof. Mereka mengatakan hukama
al – islami atau falasifat al – islami.
Kata hikmah dalam Bahasa arab berasal dari makna tali kendali bagi kuda
untuk mengekang kenakalan ( kebinatangannya ). Berasal dari kata inilah diambil
kata hkmah dalam arti kebijaksanaan atau pengetahuan, Karena hikmah ini akan
menjadikan pemiliknya terhalang untuk melakukan tindakan atau perbuatan yang
rendah. Oleh Karena yang mampu memiliki kendali itu hanya manusia. Pencarian
dan pengembangan adalah suatu proses refleksi manusia terhadap kenyataan. Jadi
kalua berbicara tentang filsafat mungkin berarti berbicara tentang jenis
pengetahuan yang disebut filsafat, atau mungkinaktivitas budi manusia dalam
mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.
B. Asal
usul kehidupan dan keaneka ragaman makhluk hidup
Jika kita mempercayai para pelaksana riset beserta pernyataan –
pernyataan mereka mengenai fenomena kehidupan. “Asal usul kehidupan tidak lagi
menjadi subyek penyelidikan laboratorium,” Karena selalu beranggapan bahwa kata
– kata ini tetap menyimpan makna, maka kita berkesimpulan bahwa kehidupan tidak
lagi mengandung hal – hal yang tidak kita ketahui. Tapi nyatanya, situasinya
sangat berbeda dan terdapat banyak sekali misteri yang masih menyelimuti asal
usul kehidupan.
Eksperimen – eksperimen telah berulang – ulang dilaksnakan selam
bertahun – tahun oleh para ahli biokimia dan biofisika dalam upaya membuktikan
kemungkinan mendapatkan secara spontan kuantitas – kuantitas tak terbatas
senyawa – senyawa kimia tertentu yang terdapat pada sel -sel yang susunannya sangat
kompleks. Para ilmuwan tersebut berpendapat bahwa Karena pengaruh – pengaruh
fisis yang mendukung, maka senyawa – senyawa itu secara spontan menjadi tertata
dengan teratur, kemudian membentuk kompleks yang kita namakan sel, atau bahkan
organisme – organisme hidup yang elementer.
Mereka yang dengan gigih berpendapat bahwa faktor kebetulan ikut
berperan, mendasarkan pendapat mereka atas eksperimen – eksperimen semacam ini
yang mengklaim telah memproduksi asal usul yang mungkin dari kehidupan. Mereka
mengulang pandangan – pandangan Miller pada tahun 1955 mengemukakan formasi
senyawa – senyawa kimia yang kompleks. Tak perlu kita katakana bahwa eksperimen
– eksperimen semacam itu sama sekali tidak menjelaskan susunan – susunan
komponen tersebut.
Sungguh, kita harus berpaling ke disiplin – disiplin selain biokimia
untuk mendapatkan petunjuk – petunjuk awal guna memecahkan masalah itu, dan
terutama kita harus palaeontologi. Hewan – hewan dan tetumbuhan prasejarah
tertentu tidak sepenuhnya hancur setelah mati. Keadaan ketika bekas – bekas itu
ditemukan kadang – kadang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan tertentu
menyangkut morfologi dan umur makhluk yang pernah hidup ini.
Kompleksitas yang makin membesar itu selalu ada di sepanjang evolusi.
Kita menemukan tetumbuhan serupa yang telah menjadi fosilpada suatu periode
yang jauhlebih muda 500 juta tahun yang lampau. Tentu kita tidak dapat
meyakini, bahwa bakteri – bakteri di masa kini identik dengan bakteri – bakteri
yang dikatakan telah muncul di muka bumi sebagai organisme – organisme hidup yang pertama. Apapun jawabannya, asal
usul kehidupan ternyata bermula dari air. Menurut pemekiran sekarang, adalah
mustahil membayangkan adanya kehidupan tanpa air. Setiap upaya mencari jejak
kehidupan di planet – planet lain dimulai denga pertanyaan : Apakah air ada
disana ? Di atas permukaan bumi,
gabungan kondisi – kondisi tertentu termasuk air diisyaratkan bagi adanya kehidupan.
Adalah sulit untuk tidak merasa demikian kagum kepada para ahli biologi
molekuler yang mula pertama menemukan mekanisme – mekanisme yang sangat
kompleks ini. Sistem – sistem yang begitu sempurna untuk mempertahankan
kehiduoan sehingga keasalahan fungsi yang paling kecil pun akan menimbulkan
cacat atau pertumbuhan tak terkendalikan. Satu pertanyaan yang sangat pentung
segera muncul di dalam benak kita, yang didasarkan hasil – hasil semua
penyelidikan ini. Bagaimana sistem sekompleks ini terbentuk ? merupakan suatu
kebetulan, sebagai hasil dari banyak percobaan dan perbaikan. Hal itu tampaknya sangat mustahil. Teori –
teori apalagi yang yang akan digunakan. Itulah yang dihadapi semua orang yang
berfikir dan mencari suatu penjelasan atas pertanyaan – pertanyaan semacam itu.
Orang – orang yang tidak mau menerima kata – kata kosong atau teori – teori tak
berdasar, orang – orang yang hanya akan membenarkan kesimpulan – kesimpulan
yang didasarkan atas fakta – fakta. Namun, dengan pengetahuan yang cukup tinggi
yang dicapai di zaman sekarang ini, sains sama sekali belum bisa menjawab soal
yang satu ini.
Keanekaragaman Makhluk – Makhluk Hidup
Terdapat keanekaragaman makhluk – makhluk hidup yang tak terbilang
jumlahnya. Sejak zaman paling kuno, para pengamat telah mencatat adanya
keanekaragaman ini dan telah berusaha keras menganalisisnya secara terinci.
Para ahli alam mencatat adanya ketetapan yang mencengangkan dari orang – orang
primitif tertentu yang membedakan species – species hewan disekeliling mereka.
Walau tak mendapatkan petunjuk dari luar orang – orang ini telah berhasil
menyusun temuan – temuan yang tidak kalah mutunya dengan karaya seorang ahli.
Pembedaan pertama yang dibuat atas makhluk – makhluk hidup ialah
memisahkan dunia hewan dari dunia tumbuhan . Meskipun keduanya mempunyai elemen
dasar yang sama yaitu sel dan juga banyak substansi pokok yang sama pula, namun
keduanya berbeda dalam beberapa hal. Dunia tetumbuhan bergantung langsung pada
bumi dalam hal mendapatkan makanannya. Dunia hewan, di lain pihak, tergantung
pada dunia tetumbuhan dalam hal mendapatkan makanannya.
Sekalipun begitu, kesenjangan dalam pengetahuan kita mengenai transisi
dari salah satu kelompok ini ke kelompok lain sangat besar. Setiap penjelasan
mengenai mekanisme yang mengatur evolusi kreatif rencana – rencana
organisasional dasar hanya berbentuk hipotesis. Pernyataan ini hendaknya
ditempatkan pada halaman depan setiap buku yang membahasa evolusi Karena kita
tidak memiliki bukti documenter yang pasti, maka pernyataan – pernyataan
mengenai asal usul phylum hanya dapat berupa perkiraan, pendapat yang tigkat
kebenarannya tidak dapat kita ukur. Dari sudut pandang ini, sebab – sebab
penentu fenomena yang dipermasalahkan tersebut sama tidak jelasnya dengan
kelahiran bentuk – bentuk kehidupan yang paling elementer.
Adalah sulit untuk mengatakan pada periode apa sebelum abad kesembilan
belas masalah evolusi dalam dunia hewan pertama kali muncul. Pada abad – abad
kelahiran kristus, beberapa filsuf Yunani telah menyadari bahwa dunia kehidupan
itu akan terus berubah. Para pengamat yang hidup sesudah mereka kadang – kadang
menunjukkan wawasan – wawasan intuitif yang mengejutkan. Tapi tak dapat
disangkal lagi, kesimpulan – kesimpulan mereka lahir dari gagasan – gagasan
filosofis atau dari dugaan semata mata. Fakta mereka kemudia ternyata benar,
meskipun hal itu merupakan hasil perkiraan saja, tidak memberikan nilai
istimewa apapun konsep – konsep filosofis awal ini. Sungguh kita harus selalu
ingat bahwa dalam periode yang sama, para filsufyang sama mempertahankan teori
– teori yang sedikit oun tidak akurat dengan penuh ketenangan hati: teori
-teori mengenai adanya alam raya yang senantiasa berada dalam keadaan yang sama
sepanjang masa.
Meski demikian, kita bisa membuat banyak gagasan dari mengamati betapa
bentuk anatomis yang jelas batasannya yang ada pada masa tertentu telah
menggatikan suatu bentuk serupa dengan morfologiyang kurang berkembang.
Perubahan yang terjadi selama suatu periode tertentu masa ini bisa jadi
menunjukkan suatu penyesuaian yang lebih baik dengan kondisi – kondisi
kehidupan yang lebih baru.
Dalam perspektif Zainal Abidin, filsafat manusia menggunakan metode
sistesis dan reflektif, serta mempunyai karakteristik ekstensif, intensif, dan
kritis. Penggunaan metode sistesis dalam filsafat manusia, yang menyintesiskan
pengalaman dan pengetahuanke dalam suatu visi, tampak misalnya dari sistem
-sistem besar filsafat Bergon tantang daya penggerak hidup. Dengan metode sintesis
maka tercapailah visi menyeluruh dan rasional tentang manusia. Oleh sebab itu,
ketimbang berkisar hanya tentang salah satu aspek tertentu saja dari manusia,
baik individu maupun sebagai kelompok social, filsafat manusia justru berkenaan
dengan totalitas dan keberagaman aspek – aspek yang terdapat pada manusia
secara universal.
Berdasarkan pengalaman dan berbagai pengetahuan tentang manusia, para
filsuf mencoba menyaring dan menggolongkan isi pengalaman dan pengetahuan
tersebut kedalam satu atau dua kategori realitas paling mendasar, yang
diandaikan sebagai hakikat dari semua umat manusia. Filsuf yang sedang
berfilsafat pada kenyataannya bukan hanya berusaha memahami esensi manusia an
sic ( baik secara keseluruhan maupun secara individu ), tetapi juga hendak
memahami dirinya sendiri di dalam pemahaman tentang esensi manusia itu. Dengan
demikian, ada kemungkinan dalam filsafat manusia terdapat keterlibatan pribadi
dan pengalaman subjektif dari beberapa filsuf tertentu pada setiap apa yang dipikirkannya.
Dalam filsafat manusia, bukan hanya das sein ( kenyataan yang
sebagaimana adanya ) yang dipertimbangkan, tetapi juga das sollen ( kenyataan
yang seharusnya ). Ini berarti bahwa nilai, yang selain dipandang subyektif
tetapi juga ideal, mewarnai kegiatan filsafat manusia. Nilai – nilai, apakah
itu personal, social, moral, religious, ataupun kemanusiaan, bukan barang haram
atau terlarang di dalam filsafat manusia. Itulah sebabnya kita tidak perlu
heran kalua Karl Max menganjurkan kepada para filsuf bahwa tugas mereka
sekarang bukan lagi menerangkan dunia tetapi mengubah dunia.
Sedangkan karakteristik filsafat manusia secara umum yakni bercirikan
ekstensif, intensif, dan kritis. Ciri ekstensif filsafat manusia dapat kita
saksikan dari luasnya jangkauan atau menyeluruhnya objek kajianyang digeluti
oleh filsafat ini. Filsafat manusia adalah gambaran menyeluruh atau synopsis
tentang realitas manusia. Berbeda dengan ilmu – ilmu tentang manusia, filsafat
manusia tidak menyoroti aspek – aspek tertentu dari gejala dan kejadian manusia
secara terbatas.
Filsafat manusia pun sangat peka terhadap upaya – upaya untuk
menyimplikasikan hidup manusia. Karena filsafat manusia hendak memahami manusia
secara ekstensif dan intensif, maka ia tidak puas terhadap pengetahuan atau infomasi yang bersifat sempit, dangkal,
dan simplintis tentang manusia. Sambil menjalankan usahanya dalam memahami
manusia secara ekstensif dan intensif, filsafat manusia tidak hentin – hentinya
mengecam kekuatan – kekuatan atau ideologi – ideologi yang ada di belakang
upaya simplikasi itu.
C. Asal
Usul Manusia Menurut AL-QURAN dan Sains
Dari manakah manusia berasal ? Apakah manusia yang ada sekarang ini
mempunyai hubungan dengan hewan. Bagaimana Bibel menjelaskan asal manusia ?
Apakah penjelasan Bibel dapat dibuktikan secara science ? bagaimana Al Qur’an
menjelaskan asal manusia ? Itulah pertanyaan beberapa pertanyaan yang
didapatkan setelah membaca buku yang ditulis Dr Maurice Bucaile. Beliau adalah
dokter di bidang biologi molukoler dan genetika. Disamping itu ia juga menelaah dari dekat kitab – kitab
suci agama – agama monoteisme Yahudi Nasrani dan Islam.
Berdasarkan penelitiannya ( 40 thn lebih ) ia menyimpulkan bahwa sains
dan agama yang semula dianggap bertentangan ternyata selaras. Terlebih lagi
dalam kitab suci Al Qur”an berdasarkan pengkajiannya Al Qur’an berbeda dengan
kitab – kitab lainnya, isi dari Al Qur’an sepenuhnya bebas dari pernyataan –
pernyataanyang bertentangan dengan temuan – temuan modern. Hal ini membuktikan
bahwa Al Qur’an lafadz – lafadznya merupakan wahyu yang samawi bebas dari
kesalahan – kesalahan manusiawi yang dapat ditemukan pada kitab – kitab suci
lainnya, yang pada umumnya merupakan hasil penulisan kemba;li orang lain dan
diragukan keontetikannya. Keontetikan Al Qur’an telah dijamin seperti
ditegaskan dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 1 – 4 dan Al Hijr ayat 9.
Sejak dulu memperbincangkan dari mana asal usul kita sebagai manusia
selalu menjadi topik yang menarik dan tidak akan bosan. Mengapa demikian, hal
ini wajar, sebab yang dibicarakan tentang diri kita sendiri. Sampai sekarang
masih banyak yang tidak mengetahui dari mana asal kita dulu. Pencarian ini
seolah – olah menjadi misteri hingga akhir masa. Ada beberapa informasi penting
yang mencoba menjelaskandari mana asal kita dulu.
Dalam beberapa kitab suci seperti injil dan Al Qur’an penciptaan manusia
ini secara eksplisit tertulis jelas. Ditambah hasil penelitian ilmuwan seperti
Charles Darwin juga dapat dijadikan referensi keilmuan kita. Disini masalah
menjadi menarikkarena pro kontra asal usul manusia semakin menjadi – jadi.
Teori Darwin mengatakan manusia mencapai bentuk sekarang ini melalui proses
evolusi yang panjang. Ada yang mengatakan manusia berasal dari kera, ada juga
yang mengatakan berasal dari reptil.
Hal ini jika dikaitkan dengan
yang ada di kitab suci sepert injil, Al Qur’an dan sains bertentangan.
Hal inilah yang memacu Dr Maurice Buccaile selam 40 tahun lebih memusatkan
perhatian pada bidang biologimolekuler dan genetika. Buku ini merangkum semua
persoalan tadi. Di dalam buku ini ia menunjukkan sains dan agama sama sekali
tidak bertentangan akan tetapi keduanya sangat selaras. Dari telaahannya
ternyata Al Qur’an berbeda dengan kitab suci lainnya. Al Qur’an terlepas dari
kesalahan – keasalahan manusiawi yang bisa ditemukan dalam kitab -kitab suci
lainnya yang merupakan hasil penulisan – penilisan kembali oleh orang lain. Melalui
buku ini Bucaille yakin bahwa ayat – ayat Al Qur’an tentang berbagai fenomena
alam khusunya tentang asal usul makhluk hidup, tidak bertentangan dengan fakta
yang ditemukan sains.
Orang – orang yang tak mengerti posisi yang ditempati oleh Al Qur’an
dalam perbandingannya dengan Bibel ataupun yang masih jahil tentang peristiwa –
peristiwa yang di dalamnya Al Qur’an dikomunikasikan kepada manusia, tak syak
lagi akan merasa takjub ketika mendapati di dalam studi ini begitu banyak ruang
yang diberikan kepada teks – teks Al Qur’an . Ketakjuban mereka bisa dijelaskan
oleh kenyataan bahwa sebagian besar
orang di barat hidup dalam kesalahan – kesalahan konsepsi berkenaan islam dan
Al Qur’an.
Pendekatan terhadap apa yang dianggap sebagai teks Al Qur’an ini
sepentas lalu memang tampak logis tetapi jika seseorang memeriksa teks tersebut
secara ilmiah dan adil, maka akan menjadi jelaslah bahwa pendekatan ini sama
sekali tidak sejalan dengan kenyataan. Berikut ini akan kita lihat kebenaran
pernyataan ini yang tampak jelas dari teks – teks tersebut.
Begitu ada bukti tekstual tentang terdapatnya pernyataan – pernyataan di
dalam Al Qur’an yang sejalan dengan sains modern, tetapi yang di dalam bibel
diriwayatkan secara sedemikian sehingga tidak bisa diterima secara saintifik,
maka respon yang timbul adalah bahwa selama kurun waktu yang memisahkan kedua
kitab suci itu, para ilmuwan arab telah menghasilkan penemuan – penemuan dalam
berbagai disiplin yang memampukan mereka untuk sampai pada apa yang dianggap
sebagai adaptasi – adaptasi ini. Pendekatan ini sama sekali tak mengubris
sejarah sains. Sejarah sains menunjukkan bahwa periode besar di dalam peradaban
islam yang di dalamnya, sebagaimana yang kita ketahui sains meraih kemajuan –
kemajuan penting, baru terjadi setelah pewahyuan Al Qur’an kepada manusia.
Sejarah sains memberitahukan kepada kita bahwa sehubungan dengan masalah
– masalah yang di bahas dalam buku ini taka da penemusan – penemuan yang dhasilkan
selama kurun waktu yang memisahkan bibel dan Al Qur’an itu. Meskipun demekian,
jika aspek Al Qur’an ini disebutkan dibarat, kemungkinan besar kita akan
mendengar komentar bahwa, meskipun bisa jadi kenyataannya demikian, namun fakta
ini tidak pernah disebutkan di dalam
terjemahan – terjemahan Al Qur’an yang kita miliki sekarang atau di dalam
prakata – prakata ataupun komentar – komentar yang mneyertainya.
Namun kenyataannya adalah bahwa yang menerjemahkannya secara tepat,
seseorang mesti, pertama sekali memahami apa yang di baca. Hal penting lainnya
adalah bahwa para penerjemah itu oleh pengaruh tradisi, para pengulas seperti
itu seringkali dianggap sebagai sangat otoritatif, meskipun mereka tidak
memiliki pengetahuan saintifik sebagaimana hal orang – orang lain pada masa
itu. Mereka tak mampu membayangkan bahwa teks -teks tersebut mungkin mengandung
penunjukkan – penunjukkan pada sains sekulardan dengan demikian mereka tak bisa
mencurahkan perhatian kepada suatu paragraf khas dengan memperbandingkannya
dengan ayat – ayat lain di dalam Al Qur’anyang menggarap tema yang sama. Suatu
proses yang seringkali merupakan kunci untuk memahami arti suatu kata atau
ungkapan.
Inilah sebabnya mengapa setiap bagian di dalam Al Qur’an yang memunculakn
suatu perbandingan dengan sains secular modern cenderung diterjemahkan secara
tidak tepat. Sangat sering terjemahan – terjemahan tersebut di bumbui dengan
pernyataan – pernyataan yang tidak tepat atau malah sepenuhnya tak berarti.
Satu – satunya cara untuk menghindarkan terjadinya kesalahan – kesalahanseperti
itu adalah dengan memiliki latar belakang saintifik dan mengkaji teks Al Qur’an
di dalam bahas aslinya.
Berkenaan dengan masalah manusia sebagaimana juga topik -topik lain yang
disebutkan diatas tidaklah mungkin menemukan data sejenis seperti kesalahan
uraian tentang munculnya manusia pertama diatas bumi yang sebagaimana telah
kita lihat bisa di deduksikan dari genealogi yang ada dalam genesis tidak bisa
ditemukan dalam Al Qur’an. Telah lewat masa lebih dari seribu tahun sejak saat
teks AL Qur’an yang paling kuno hingga yang bisa ditemukan sekarang.
Dalam kerangka diatas, sudah merupakan suatu keharusan untuk mengetahui
sejarah teks – teks tersebut. Sebagaimana juga penting bagi kita untuk memahami
aspek -aspek tertentu . Sejalan dengan aspek keagamaan utama perenungan –
perenungan tentang manusia seperti itu, kita temukan didalam Al Qur’an,
pernyataan – pernyataan tentang manusia yang sepenuhnya merujuk kepada fakta –
fakta material. Kesemuanya itu sungguh menakjubkan setiap oramg yang
mendekatinya pada pertama kalinya. Contohnya, Al Qur’an menguraikan asal usul
kehidupan secara umum dan memberikan banyak sekali ruang transformasi –
transformasi morfologis yang dialami oleh manusia, seraya berulang – ulang
menekankan fakta bahwa Tuhan membentuknya seperti yang dikehendaki.
Demikian pula kita mendapati pernyataan – pernyataan tentang reproduksi
manusia yang terungkapkan dengan tepat dan membuka kemungkinan bagi
pembandingan dengan sains sekular yang kita miliki saat ini berkenaan dengan
masalah tersebut. Dengan demikian, banyaknya pernyataan dalam Al Qur’an yang
bisa di perbandingkan dengan ilmu pengetahuan modern, sama sekali tidak
demikian mudah ditemukan. Yang bisa di rujuk hanyalah sedikit karya dalam
Bahasa arab yang menggarap tema – tema
Al Qur’an yang merupakan minat para ilmuwan meski demikian tetap saja taka da
studi yang menyeluruh.
Di samping itu, pengetahuan saintifik yang mencakup berbagai disiplin.
Meski demikian, tak mudah bagi para ahli islamologi untuk mencapai ilmu
pengetahuan seperti itu, Karena mereka memiliki suatu latar belakang yang
terutama bersifat kesastraan. Malah masalah – masalah seperti itu hampir –
hampir tidak mendapatkan tempat di dalam lapangan islamologi klasik, paling
tidak sehubungan dengan barat. Hanya seorang saintis yang amat akrab dengan
kesusastraan arab sajalah yang bisa menarik perbandingan – perbandingan antara
teks Al Qur’an yang untuk itu ia mesti mampu membaca bahas arab dan data yang
diberikan oleh pengetahuan modern.
Salah satu sifat asli Al Qur’an adalah bahwa untuk mengilustrasikan
penegasan yang berulang – ulang tentang ke mahakuasaan Tuhan. Kitab tersebut
merujuk pada suatu keragaman gejala alam. Dalam sejumlah besar fenomena yang juga memberikan sejumlah uraian terinci
tentang cara fenomena -fenomena itu berevolusi penyebab – penyebab dan akibat –
akibatnya, kesemua ini pantas untuk diperhatikan. Yang menjadikan penemuan –
penemuan ini sanagt penting adalah bahwa kesemuanya itu merujuk pada banyak
pengertian yang belum dikenal pada saat – saat Al Qur’an di wahyukan kepada
manusia dan yang baru 14 abad kemudian terbukti sepenuhnya selaras dengan sain
modern.
Al Qur’an memberikan jawaban yang amat jelas pada pertanyaan ; Pada
titik manakah kehiduopan bermula ? Dalam bagian ini ayat -ayat Al Qur’an yang
di dalamnya di nyatakan bahwa asal usul manusia adalah bersifat air. Data
modern membawa kita berfikir bahwa wujud hidup yang paling tua barangkali termasuk
kedalam dunia tumbuh – tumbuhan. Organisme yang termasuk dalam dunia hewan
barangkali muncul sedikit lebih kemudian.
Makna spiritual utama asal usul manusia dari tanah tidak menyingkirkan
pengertian yang ada di dalam Al Qur’an tentang apa yang di sebut sebagai
komponen – komponen kimiawi tubuh manusia yang bisa ditemukan di tanah, maka
terminologi yang sesuai dengan tingkat pengetahuan pada masa itu harus
digunakan. Sesungguhnya pernyataan Al Qur’an yang berhubungan dengan tema ini
mengandung jawaban terhadap pertanyaan mengenai transformasi yang terjadi dalam
morfologi manusia selama berabad – abad .
Setelah mencapai bab penelitian kita ini berkenaan dengan jawaban –
jawaban yang di berikan oleh Al Qur’an kepada pertanyaan darimanakah asal usul
manusia ? kiranya kita barangkali cenderung untuk berfikir bahwa tema ini telah
sepenuhnya tergarap. Dengan mengesampingkan mereka yang secara sistematis dan
otomatis menyangkal gagasan mengenai Tuhan, jawaban bagi pertanyaan Apakah asal usul manusia ? tak pelak lagi
akan sangat tergantung bukanhanya pada kekuatan iman yang dimiliki tapi juga
bergantung pada tingkat pengetahuan dengan latar belakang ilmiah.
KESIMPULAN
1. Menurut
kitab suci Al Qur’an ternyata
berdasarkan hasil penelitian dan pembuktian asal usul manusia lebih dapat
membuktikannya secara ilmu pengetahuan. Al Qur’an yang menyebutkan asal
kehidupan bermula dari air dan khusu manusia Al Qur’an menyebutkannya dari tanah. Dalam tanah terkandung juga air
2. Dari
paparan -paparan tersebut diharapkan kita semakin yakin akan kandungan Al
Qur’an sebagai pedoman hidup kita dan pegangan hidup kita sekaligus sumber
pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
- Bucaille Maurce, Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al Qur’an dan Sains, Bandung, Mizan. Tahun 1987
- Nasim Fauzi , Mencari Leluhur Kita Yang Sejati, Blog Dr Nazim Fauizi
- Zaprulkhan , Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, Depok, Raja Grafindo Persada. 2013