Jumat, 20 Januari 2017

TUGAS :

FILSAFAT  PENDIDIKAN
“Asal Usul Manusia Ditinjau Dari Al-Qur’an dan Sains”

 BAB 1
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
        Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah sebagai khalifah allah di muka bumi,  sebagai khalifah. Manusia mendapat kuasa dan wewenang  untuk melaksanakannya, dengan demikian pendidikan merupakan urusan hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Untuk mendidik dirinya  sendiri, apa hakikat manusia, bagaimana hakekat hidup dan kehidupannya, apa tujuan hidup dan apa pula tujuan hidupnya.
        Filsafat, sebagai daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami, mendalami dan menyelami secara radikal dan integral sistematis mengenal ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu, Hakekat filsafat selalu menggunakan ratio ( pikiran ) dalam perjalanan hidupnya manusia di hadapkan pada pengalaman – pengalaman peristiwa alamiah yang ada di sekitarnya.
        Istilah filsafat berasal dari dua suku kata dalam bahas Yunani kuno, yaitu phile atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan Sophia  atau Sophos yang berarti kebijaksanaan. Di zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan special, akan tetapi suatu cara hidup yang konkret, suatu pandangan hidup yang total tengtang manusia dan tentang alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problema yang dihadapinya.
        Manusia telah memikirkan tentang asal – usulnya selama beribu – ribu tahun. Tetapi, sampai belakangan ini, satu – satunya sumber gagasan – gagasannya  adalah pengertian – pengertian yang diperoleh dari ajaran – ajaran keagamaan dan berbagai sistem filsafat. Baru pada zaman modern, bersama dengan mengalirnya berbagai jenis data, ia mampu mendekati masalah asal usulnya dari sudut yang baru.
        Kita hidup pada suatu masa yang di dalamnya nalar dan penaklukan oleh ilmu pegetahuan mengklaim sebagai telah berhasil memberikan jawaban – jawaban yang logis terhadap seluruh pertanyaan – pertanyaan besar yang diajukan oleh akal manusia Demikian pula, masalah asal – usul manusia, oleh beberapa orang telah diajukan terutama sebagai suatu persoalan yang bisa sepenuhnya dijelaskan oleh ilmu pengetahuan sekuler . On the Origin of Species, karangan Darwin yang terbit di inggris pada tahun 1859, telah meraih sukses besar, dan selama tahun – tahun yang mengikutinya, menjadi jelaslah betapa besarnya akibat yang ditimbulkan suatu teori yang berkenan dengan asal – usul manusia.
        Pengertian yang bersifat teoritis seperti yang dilahirkan filsafat Yunani itu kehilangan kemampuan untuk memberi jawaban yang layak tentang kebenaran peradaban itu telah menyebabkan manusia melakukan loncatan besar dalam bidang sains, teknologi, kedokteran dan pendidikan. Perubahan itu mendorong manusia memikirkan manusia memikirkan kembali pengertian tentang kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh terhadap sistem nilai yang berlaku, Karena antara perubahan peradaban dengan cara berfikir manusia terdapat hubungan timbal balik.
        Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu – ilmu lain, Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan – lahan dari induknya.
1.1  Rumusan Masalah
1.  Bagaimana pendekatan filosofis dalam memecahkan asal usul manusia
2.  Bagaimana ilmu filsafat menjawab masalah asal usul manusia  menurut  sains dan agama.

1.2  Tujuan Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengerjakan  tugas mata kuliah filsafat pendidikan sedangkan tujuan khusus dari penyusunan makalah ini yaitu :
1.  Untuk mengetahui bagaimana pendekatan filosofis dalam memecahkan asal – usul manusia
2.  Untuk mengetahui bagaimana ilmu filsafat menjawab masalah asal usul menurut sains dan agama


BAB II
PEMBAHASAN

        Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semua orang berfikir tetapi tidak semua orang menjadi filosof. Ungkapan ini sebenarnya menyiratkan bahwa tidak semua berpikir merupakan kegiatan berfilsafat. Memang berfikir merupakan kegiatan berfilsafat. Memang berfikir merupakan kegiatan rohani manusia paling khas, “animale rational’ ungkap Aristoteles yang seolah – olah ingin menyatakan bahwa manusia itu merupakan hewan yang berakal. Manusia adalah makhluk yang sangat khas dan unikjika dibandingkan dengan makhluk – makhluk lainnya.Ia selalu ingin mengetahui segala sesuatu terkait dengan situasi dan realitas yang dihadapinya, tetapi juga manusia dapat mengembangkan ketrampilan nalarnya sehingga berkembang berbagai jenis pengetahuan.
        Pada mulanya manusia mengembangkan pengetahuannya secara sederhana dan bersifat umum. Bentuk renungan kefilsafatanawal ini memang masih bersifat abstrak dan tidak sistematis. Dimulai dari berfikir yang sangat sederhana dan bersifat umum inilah manusia kemudian mengembangkan berbagai jenis pengetahuan sebagai mana yang ada sekarang. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian disebutkan bahwa filsafat meruopakan induk dari segenap pengetahuan yang ada atau mater scientarium. Namun apakah sebenarnya filsafat itu ?

A.  Pengertian Filsafat
        Kata Filsafat padanan dari Bahasa arab falsafah dan Bahasa inggrisnya philosophy. Kata filsafat sendiri berasal dari Bahasa Yunani Philosophia yakni gabungan dari kata philos yang artinya cinta, dan Sophos berarti kebijaksanaan. Secara epitomologi berarti filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan.
        Menurut Cicero (106 – 43 SM ), penulis Romawi menyatakan bahwa orang yang pertama memakai kata – kata filsafat adalah Phytagoras ( 582 – 496 SM ), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya “Ahli Pengetahuan”
        Sementara Prof. Ir. Pudjawijatna menerangkan bahwa filo artinya cinta dalam arti seluas – luasnya yaitu ingin dan Karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya, “Sofia” artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.
        Sedangkan, Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti penggunaan kata – kata filsafat di kalangan umat islam berkesimpulan bahwa kata hikmah dan hakim dalam Bahasa arab digunakan dalam arti falsafat dan filosof. Mereka mengatakan hukama al – islami atau falasifat al – islami.
        Kata hikmah dalam Bahasa arab berasal dari makna tali kendali bagi kuda untuk mengekang kenakalan ( kebinatangannya ). Berasal dari kata inilah diambil kata hkmah dalam arti kebijaksanaan atau pengetahuan, Karena hikmah ini akan menjadikan pemiliknya terhalang untuk melakukan tindakan atau perbuatan yang rendah. Oleh Karena yang mampu memiliki kendali itu hanya manusia. Pencarian dan pengembangan adalah suatu proses refleksi manusia terhadap kenyataan. Jadi kalua berbicara tentang filsafat mungkin berarti berbicara tentang jenis pengetahuan yang disebut filsafat, atau mungkinaktivitas budi manusia dalam mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.

B.  Asal usul kehidupan dan keaneka ragaman makhluk hidup
        Jika kita mempercayai para pelaksana riset beserta pernyataan – pernyataan mereka mengenai fenomena kehidupan. “Asal usul kehidupan tidak lagi menjadi subyek penyelidikan laboratorium,” Karena selalu beranggapan bahwa kata – kata ini tetap menyimpan makna, maka kita berkesimpulan bahwa kehidupan tidak lagi mengandung hal – hal yang tidak kita ketahui. Tapi nyatanya, situasinya sangat berbeda dan terdapat banyak sekali misteri yang masih menyelimuti asal usul kehidupan.
        Eksperimen – eksperimen telah berulang – ulang dilaksnakan selam bertahun – tahun oleh para ahli biokimia dan biofisika dalam upaya membuktikan kemungkinan mendapatkan secara spontan kuantitas – kuantitas tak terbatas senyawa – senyawa kimia tertentu yang terdapat pada sel -sel yang susunannya sangat kompleks. Para ilmuwan tersebut berpendapat bahwa Karena pengaruh – pengaruh fisis yang mendukung, maka senyawa – senyawa itu secara spontan menjadi tertata dengan teratur, kemudian membentuk kompleks yang kita namakan sel, atau bahkan organisme – organisme hidup yang elementer.
        Mereka yang dengan gigih berpendapat bahwa faktor kebetulan ikut berperan, mendasarkan pendapat mereka atas eksperimen – eksperimen semacam ini yang mengklaim telah memproduksi asal usul yang mungkin dari kehidupan. Mereka mengulang pandangan – pandangan Miller pada tahun 1955 mengemukakan formasi senyawa – senyawa kimia yang kompleks. Tak perlu kita katakana bahwa eksperimen – eksperimen semacam itu sama sekali tidak menjelaskan susunan – susunan komponen tersebut.
        Sungguh, kita harus berpaling ke disiplin – disiplin selain biokimia untuk mendapatkan petunjuk – petunjuk awal guna memecahkan masalah itu, dan terutama kita harus palaeontologi. Hewan – hewan dan tetumbuhan prasejarah tertentu tidak sepenuhnya hancur setelah mati. Keadaan ketika bekas – bekas itu ditemukan kadang – kadang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan tertentu menyangkut morfologi dan umur makhluk yang pernah hidup ini.
        Kompleksitas yang makin membesar itu selalu ada di sepanjang evolusi. Kita menemukan tetumbuhan serupa yang telah menjadi fosilpada suatu periode yang jauhlebih muda 500 juta tahun yang lampau. Tentu kita tidak dapat meyakini, bahwa bakteri – bakteri di masa kini identik dengan bakteri – bakteri yang dikatakan telah muncul di muka bumi sebagai organisme – organisme  hidup yang pertama. Apapun jawabannya, asal usul kehidupan ternyata bermula dari air. Menurut pemekiran sekarang, adalah mustahil membayangkan adanya kehidupan tanpa air. Setiap upaya mencari jejak kehidupan di planet – planet lain dimulai denga pertanyaan : Apakah air ada disana ?  Di atas permukaan bumi, gabungan kondisi – kondisi tertentu termasuk air diisyaratkan  bagi adanya kehidupan.
        Adalah sulit untuk tidak merasa demikian kagum kepada para ahli biologi molekuler yang mula pertama menemukan mekanisme – mekanisme yang sangat kompleks ini. Sistem – sistem yang begitu sempurna untuk mempertahankan kehiduoan sehingga keasalahan fungsi yang paling kecil pun akan menimbulkan cacat atau pertumbuhan tak terkendalikan. Satu pertanyaan yang sangat pentung segera muncul di dalam benak kita, yang didasarkan hasil – hasil semua penyelidikan ini. Bagaimana sistem sekompleks ini terbentuk ? merupakan suatu kebetulan, sebagai hasil dari banyak percobaan dan perbaikan.  Hal itu tampaknya sangat mustahil. Teori – teori apalagi yang yang akan digunakan. Itulah yang dihadapi semua orang yang berfikir dan mencari suatu penjelasan atas pertanyaan – pertanyaan semacam itu. Orang – orang yang tidak mau menerima kata – kata kosong atau teori – teori tak berdasar, orang – orang yang hanya akan membenarkan kesimpulan – kesimpulan yang didasarkan atas fakta – fakta. Namun, dengan pengetahuan yang cukup tinggi yang dicapai di zaman sekarang ini, sains sama sekali belum bisa menjawab soal yang satu ini.

Keanekaragaman Makhluk – Makhluk Hidup
        Terdapat keanekaragaman makhluk – makhluk hidup yang tak terbilang jumlahnya. Sejak zaman paling kuno, para pengamat telah mencatat adanya keanekaragaman ini dan telah berusaha keras menganalisisnya secara terinci. Para ahli alam mencatat adanya ketetapan yang mencengangkan dari orang – orang primitif tertentu yang membedakan species – species hewan disekeliling mereka. Walau tak mendapatkan petunjuk dari luar orang – orang ini telah berhasil menyusun temuan – temuan yang tidak kalah mutunya dengan karaya seorang ahli.
        Pembedaan pertama yang dibuat atas makhluk – makhluk hidup ialah memisahkan dunia hewan dari dunia tumbuhan . Meskipun keduanya mempunyai elemen dasar yang sama yaitu sel dan juga banyak substansi pokok yang sama pula, namun keduanya berbeda dalam beberapa hal. Dunia tetumbuhan bergantung langsung pada bumi dalam hal mendapatkan makanannya. Dunia hewan, di lain pihak, tergantung pada dunia tetumbuhan dalam hal mendapatkan makanannya.
        Sekalipun begitu, kesenjangan dalam pengetahuan kita mengenai transisi dari salah satu kelompok ini ke kelompok lain sangat besar. Setiap penjelasan mengenai mekanisme yang mengatur evolusi kreatif rencana – rencana organisasional dasar hanya berbentuk hipotesis. Pernyataan ini hendaknya ditempatkan pada halaman depan setiap buku yang membahasa evolusi Karena kita tidak memiliki bukti documenter yang pasti, maka pernyataan – pernyataan mengenai asal usul phylum hanya dapat berupa perkiraan, pendapat yang tigkat kebenarannya tidak dapat kita ukur. Dari sudut pandang ini, sebab – sebab penentu fenomena yang dipermasalahkan tersebut sama tidak jelasnya dengan kelahiran bentuk – bentuk kehidupan yang paling elementer.
        Adalah sulit untuk mengatakan pada periode apa sebelum abad kesembilan belas masalah evolusi dalam dunia hewan pertama kali muncul. Pada abad – abad kelahiran kristus, beberapa filsuf Yunani telah menyadari bahwa dunia kehidupan itu akan terus berubah. Para pengamat yang hidup sesudah mereka kadang – kadang menunjukkan wawasan – wawasan intuitif yang mengejutkan. Tapi tak dapat disangkal lagi, kesimpulan – kesimpulan mereka lahir dari gagasan – gagasan filosofis atau dari dugaan semata mata. Fakta mereka kemudia ternyata benar, meskipun hal itu merupakan hasil perkiraan saja, tidak memberikan nilai istimewa apapun konsep – konsep filosofis awal ini. Sungguh kita harus selalu ingat bahwa dalam periode yang sama, para filsufyang sama mempertahankan teori – teori yang sedikit oun tidak akurat dengan penuh ketenangan hati: teori -teori mengenai adanya alam raya yang senantiasa berada dalam keadaan yang sama sepanjang masa.
        Meski demikian, kita bisa membuat banyak gagasan dari mengamati betapa bentuk anatomis yang jelas batasannya yang ada pada masa tertentu telah menggatikan suatu bentuk serupa dengan morfologiyang kurang berkembang. Perubahan yang terjadi selama suatu periode tertentu masa ini bisa jadi menunjukkan suatu penyesuaian yang lebih baik dengan kondisi – kondisi kehidupan yang lebih baru.
        Dalam perspektif Zainal Abidin, filsafat manusia menggunakan metode sistesis dan reflektif, serta mempunyai karakteristik ekstensif, intensif, dan kritis. Penggunaan metode sistesis dalam filsafat manusia, yang menyintesiskan pengalaman dan pengetahuanke dalam suatu visi, tampak misalnya dari sistem -sistem besar filsafat Bergon tantang daya penggerak hidup. Dengan metode sintesis maka tercapailah visi menyeluruh dan rasional tentang manusia. Oleh sebab itu, ketimbang berkisar hanya tentang salah satu aspek tertentu saja dari manusia, baik individu maupun sebagai kelompok social, filsafat manusia justru berkenaan dengan totalitas dan keberagaman aspek – aspek yang terdapat pada manusia secara universal.
        Berdasarkan pengalaman dan berbagai pengetahuan tentang manusia, para filsuf mencoba menyaring dan menggolongkan isi pengalaman dan pengetahuan tersebut kedalam satu atau dua kategori realitas paling mendasar, yang diandaikan sebagai hakikat dari semua umat manusia. Filsuf yang sedang berfilsafat pada kenyataannya bukan hanya berusaha memahami esensi manusia an sic ( baik secara keseluruhan maupun secara individu ), tetapi juga hendak memahami dirinya sendiri di dalam pemahaman tentang esensi manusia itu. Dengan demikian, ada kemungkinan dalam filsafat manusia terdapat keterlibatan pribadi dan pengalaman subjektif dari beberapa filsuf tertentu pada setiap apa yang dipikirkannya.
        Dalam filsafat manusia, bukan hanya das sein ( kenyataan yang sebagaimana adanya ) yang dipertimbangkan, tetapi juga das sollen ( kenyataan yang seharusnya ). Ini berarti bahwa nilai, yang selain dipandang subyektif tetapi juga ideal, mewarnai kegiatan filsafat manusia. Nilai – nilai, apakah itu personal, social, moral, religious, ataupun kemanusiaan, bukan barang haram atau terlarang di dalam filsafat manusia. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalua Karl Max menganjurkan kepada para filsuf bahwa tugas mereka sekarang bukan lagi menerangkan dunia tetapi mengubah dunia.
        Sedangkan karakteristik filsafat manusia secara umum yakni bercirikan ekstensif, intensif, dan kritis. Ciri ekstensif filsafat manusia dapat kita saksikan dari luasnya jangkauan atau menyeluruhnya objek kajianyang digeluti oleh filsafat ini. Filsafat manusia adalah gambaran menyeluruh atau synopsis tentang realitas manusia. Berbeda dengan ilmu – ilmu tentang manusia, filsafat manusia tidak menyoroti aspek – aspek tertentu dari gejala dan kejadian manusia secara terbatas.
        Filsafat manusia pun sangat peka terhadap upaya – upaya untuk menyimplikasikan hidup manusia. Karena filsafat manusia hendak memahami manusia secara ekstensif dan intensif, maka ia tidak puas terhadap pengetahuan  atau infomasi yang bersifat sempit, dangkal, dan simplintis tentang manusia. Sambil menjalankan usahanya dalam memahami manusia secara ekstensif dan intensif, filsafat manusia tidak hentin – hentinya mengecam kekuatan – kekuatan atau ideologi – ideologi yang ada di belakang upaya simplikasi itu.
C. Asal Usul Manusia Menurut AL-QURAN dan Sains
        Dari manakah manusia berasal ? Apakah manusia yang ada sekarang ini mempunyai hubungan dengan hewan. Bagaimana Bibel menjelaskan asal manusia ? Apakah penjelasan Bibel dapat dibuktikan secara science ? bagaimana Al Qur’an menjelaskan asal manusia ? Itulah pertanyaan beberapa pertanyaan yang didapatkan setelah membaca buku yang ditulis Dr Maurice Bucaile. Beliau adalah dokter di bidang biologi molukoler dan genetika. Disamping itu  ia juga menelaah dari dekat kitab – kitab suci agama – agama monoteisme Yahudi Nasrani dan Islam.
        Berdasarkan penelitiannya ( 40 thn lebih ) ia menyimpulkan bahwa sains dan agama yang semula dianggap bertentangan ternyata selaras. Terlebih lagi dalam kitab suci Al Qur”an berdasarkan pengkajiannya Al Qur’an berbeda dengan kitab – kitab lainnya, isi dari Al Qur’an sepenuhnya bebas dari pernyataan – pernyataanyang bertentangan dengan temuan – temuan modern. Hal ini membuktikan bahwa Al Qur’an lafadz – lafadznya merupakan wahyu yang samawi bebas dari kesalahan – kesalahan manusiawi yang dapat ditemukan pada kitab – kitab suci lainnya, yang pada umumnya merupakan hasil penulisan kemba;li orang lain dan diragukan keontetikannya. Keontetikan Al Qur’an telah dijamin seperti ditegaskan dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 1 – 4  dan Al Hijr ayat 9.
        Sejak dulu memperbincangkan dari mana asal usul kita sebagai manusia selalu menjadi topik yang menarik dan tidak akan bosan. Mengapa demikian, hal ini wajar, sebab yang dibicarakan tentang diri kita sendiri. Sampai sekarang masih banyak yang tidak mengetahui dari mana asal kita dulu. Pencarian ini seolah – olah menjadi misteri hingga akhir masa. Ada beberapa informasi penting yang mencoba menjelaskandari mana asal kita dulu.
        Dalam beberapa kitab suci seperti injil dan Al Qur’an penciptaan manusia ini secara eksplisit tertulis jelas. Ditambah hasil penelitian ilmuwan seperti Charles Darwin juga dapat dijadikan referensi keilmuan kita. Disini masalah menjadi menarikkarena pro kontra asal usul manusia semakin menjadi – jadi. Teori Darwin mengatakan manusia mencapai bentuk sekarang ini melalui proses evolusi yang panjang. Ada yang mengatakan manusia berasal dari kera, ada juga yang mengatakan berasal dari reptil.
        Hal ini jika dikaitkan dengan  yang ada di kitab suci sepert injil, Al Qur’an dan sains bertentangan. Hal inilah yang memacu Dr Maurice Buccaile selam 40 tahun lebih memusatkan perhatian pada bidang biologimolekuler dan genetika. Buku ini merangkum semua persoalan tadi. Di dalam buku ini ia menunjukkan sains dan agama sama sekali tidak bertentangan akan tetapi keduanya sangat selaras. Dari telaahannya ternyata Al Qur’an berbeda dengan kitab suci lainnya. Al Qur’an terlepas dari kesalahan – keasalahan manusiawi yang bisa ditemukan dalam kitab -kitab suci lainnya yang merupakan hasil penulisan – penilisan kembali oleh orang lain. Melalui buku ini Bucaille yakin bahwa ayat – ayat Al Qur’an tentang berbagai fenomena alam khusunya tentang asal usul makhluk hidup, tidak bertentangan dengan fakta yang ditemukan sains.
        Orang – orang yang tak mengerti posisi yang ditempati oleh Al Qur’an dalam perbandingannya dengan Bibel ataupun yang masih jahil tentang peristiwa – peristiwa yang di dalamnya Al Qur’an dikomunikasikan kepada manusia, tak syak lagi akan merasa takjub ketika mendapati di dalam studi ini begitu banyak ruang yang diberikan kepada teks – teks Al Qur’an . Ketakjuban mereka bisa dijelaskan oleh kenyataan  bahwa sebagian besar orang di barat hidup dalam kesalahan – kesalahan konsepsi berkenaan islam dan Al Qur’an.
        Pendekatan terhadap apa yang dianggap sebagai teks Al Qur’an ini sepentas lalu memang tampak logis tetapi jika seseorang memeriksa teks tersebut secara ilmiah dan adil, maka akan menjadi jelaslah bahwa pendekatan ini sama sekali tidak sejalan dengan kenyataan. Berikut ini akan kita lihat kebenaran pernyataan ini yang tampak jelas dari teks – teks tersebut.
        Begitu ada bukti tekstual tentang terdapatnya pernyataan – pernyataan di dalam Al Qur’an yang sejalan dengan sains modern, tetapi yang di dalam bibel diriwayatkan secara sedemikian sehingga tidak bisa diterima secara saintifik, maka respon yang timbul adalah bahwa selama kurun waktu yang memisahkan kedua kitab suci itu, para ilmuwan arab telah menghasilkan penemuan – penemuan dalam berbagai disiplin yang memampukan mereka untuk sampai pada apa yang dianggap sebagai adaptasi – adaptasi ini. Pendekatan ini sama sekali tak mengubris sejarah sains. Sejarah sains menunjukkan bahwa periode besar di dalam peradaban islam yang di dalamnya, sebagaimana yang kita ketahui sains meraih kemajuan – kemajuan penting, baru terjadi setelah pewahyuan Al Qur’an kepada manusia.
        Sejarah sains memberitahukan kepada kita bahwa sehubungan dengan masalah – masalah yang di bahas dalam buku ini taka da penemusan – penemuan yang dhasilkan selama kurun waktu yang memisahkan bibel dan Al Qur’an itu. Meskipun demekian, jika aspek Al Qur’an ini disebutkan dibarat, kemungkinan besar kita akan mendengar komentar bahwa, meskipun bisa jadi kenyataannya demikian, namun fakta ini tidak pernah disebutkan  di dalam terjemahan – terjemahan Al Qur’an yang kita miliki sekarang atau di dalam prakata – prakata ataupun komentar – komentar yang mneyertainya.
       Namun kenyataannya adalah bahwa yang menerjemahkannya secara tepat, seseorang mesti, pertama sekali memahami apa yang di baca. Hal penting lainnya adalah bahwa para penerjemah itu oleh pengaruh tradisi, para pengulas seperti itu seringkali dianggap sebagai sangat otoritatif, meskipun mereka tidak memiliki pengetahuan saintifik sebagaimana hal orang – orang lain pada masa itu. Mereka tak mampu membayangkan bahwa teks -teks tersebut mungkin mengandung penunjukkan – penunjukkan pada sains sekulardan dengan demikian mereka tak bisa mencurahkan perhatian kepada suatu paragraf khas dengan memperbandingkannya dengan ayat – ayat lain di dalam Al Qur’anyang menggarap tema yang sama. Suatu proses yang seringkali merupakan kunci untuk memahami arti suatu kata atau ungkapan.
        Inilah sebabnya mengapa setiap bagian di dalam Al Qur’an yang memunculakn suatu perbandingan dengan sains secular modern cenderung diterjemahkan secara tidak tepat. Sangat sering terjemahan – terjemahan tersebut di bumbui dengan pernyataan – pernyataan yang tidak tepat atau malah sepenuhnya tak berarti. Satu – satunya cara untuk menghindarkan terjadinya kesalahan – kesalahanseperti itu adalah dengan memiliki latar belakang saintifik dan mengkaji teks Al Qur’an di dalam bahas aslinya.
        Berkenaan dengan masalah manusia sebagaimana juga topik -topik lain yang disebutkan diatas tidaklah mungkin menemukan data sejenis seperti kesalahan uraian tentang munculnya manusia pertama diatas bumi yang sebagaimana telah kita lihat bisa di deduksikan dari genealogi yang ada dalam genesis tidak bisa ditemukan dalam Al Qur’an. Telah lewat masa lebih dari seribu tahun sejak saat teks AL Qur’an yang paling kuno hingga yang bisa ditemukan sekarang.
        Dalam kerangka diatas, sudah merupakan suatu keharusan untuk mengetahui sejarah teks – teks tersebut. Sebagaimana juga penting bagi kita untuk memahami aspek -aspek tertentu . Sejalan dengan aspek keagamaan utama perenungan – perenungan tentang manusia seperti itu, kita temukan didalam Al Qur’an, pernyataan – pernyataan tentang manusia yang sepenuhnya merujuk kepada fakta – fakta material. Kesemuanya itu sungguh menakjubkan setiap oramg yang mendekatinya pada pertama kalinya. Contohnya, Al Qur’an menguraikan asal usul kehidupan secara umum dan memberikan banyak sekali ruang transformasi – transformasi morfologis yang dialami oleh manusia, seraya berulang – ulang menekankan fakta bahwa Tuhan membentuknya seperti yang dikehendaki.
        Demikian pula kita mendapati pernyataan – pernyataan tentang reproduksi manusia yang terungkapkan dengan tepat dan membuka kemungkinan bagi pembandingan dengan sains sekular yang kita miliki saat ini berkenaan dengan masalah tersebut. Dengan demikian, banyaknya pernyataan dalam Al Qur’an yang bisa di perbandingkan dengan ilmu pengetahuan modern, sama sekali tidak demikian mudah ditemukan. Yang bisa di rujuk hanyalah sedikit karya dalam Bahasa arab  yang menggarap tema – tema Al Qur’an yang merupakan minat para ilmuwan meski demikian tetap saja taka da studi yang menyeluruh.
        Di samping itu, pengetahuan saintifik yang mencakup berbagai disiplin. Meski demikian, tak mudah bagi para ahli islamologi untuk mencapai ilmu pengetahuan seperti itu, Karena mereka memiliki suatu latar belakang yang terutama bersifat kesastraan. Malah masalah – masalah seperti itu hampir – hampir tidak mendapatkan tempat di dalam lapangan islamologi klasik, paling tidak sehubungan dengan barat. Hanya seorang saintis yang amat akrab dengan kesusastraan arab sajalah yang bisa menarik perbandingan – perbandingan antara teks Al Qur’an yang untuk itu ia mesti mampu membaca bahas arab dan data yang diberikan oleh pengetahuan modern.
        Salah satu sifat asli Al Qur’an adalah bahwa untuk mengilustrasikan penegasan yang berulang – ulang tentang ke mahakuasaan Tuhan. Kitab tersebut merujuk pada suatu keragaman gejala alam. Dalam sejumlah besar fenomena  yang juga memberikan sejumlah uraian terinci tentang cara fenomena -fenomena itu berevolusi penyebab – penyebab dan akibat – akibatnya, kesemua ini pantas untuk diperhatikan. Yang menjadikan penemuan – penemuan ini sanagt penting adalah bahwa kesemuanya itu merujuk pada banyak pengertian yang belum dikenal pada saat – saat Al Qur’an di wahyukan kepada manusia dan yang baru 14 abad kemudian terbukti sepenuhnya selaras dengan sain modern.
        Al Qur’an memberikan jawaban yang amat jelas pada pertanyaan ; Pada titik manakah kehiduopan bermula ? Dalam bagian ini ayat -ayat Al Qur’an yang di dalamnya di nyatakan bahwa asal usul manusia adalah bersifat air. Data modern membawa kita berfikir bahwa wujud hidup yang paling tua barangkali termasuk kedalam dunia tumbuh – tumbuhan. Organisme yang termasuk dalam dunia hewan barangkali muncul sedikit lebih kemudian.
        Makna spiritual utama asal usul manusia dari tanah tidak menyingkirkan pengertian yang ada di dalam Al Qur’an tentang apa yang di sebut sebagai komponen – komponen kimiawi tubuh manusia yang bisa ditemukan di tanah, maka terminologi yang sesuai dengan tingkat pengetahuan pada masa itu harus digunakan. Sesungguhnya pernyataan Al Qur’an yang berhubungan dengan tema ini mengandung jawaban terhadap pertanyaan mengenai transformasi yang terjadi dalam morfologi manusia selama berabad – abad .
        Setelah mencapai bab penelitian kita ini berkenaan dengan jawaban – jawaban yang di berikan oleh Al Qur’an kepada pertanyaan darimanakah asal usul manusia ? kiranya kita barangkali cenderung untuk berfikir bahwa tema ini telah sepenuhnya tergarap. Dengan mengesampingkan mereka yang secara sistematis dan otomatis menyangkal gagasan mengenai Tuhan, jawaban bagi pertanyaan  Apakah asal usul manusia ? tak pelak lagi akan sangat tergantung bukanhanya pada kekuatan iman yang dimiliki tapi juga bergantung pada tingkat pengetahuan dengan latar belakang ilmiah.

  
KESIMPULAN
1.  Menurut kitab suci Al Qur’an  ternyata berdasarkan hasil penelitian dan pembuktian asal usul manusia lebih dapat membuktikannya secara ilmu pengetahuan. Al Qur’an yang menyebutkan asal kehidupan bermula dari air dan khusu manusia Al Qur’an menyebutkannya  dari tanah. Dalam tanah terkandung juga air
2.  Dari paparan -paparan tersebut diharapkan kita semakin yakin akan kandungan Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita dan pegangan hidup kita sekaligus sumber pengetahuan kita.

  
DAFTAR PUSTAKA
  1. Bucaille Maurce, Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al Qur’an dan Sains, Bandung, Mizan. Tahun 1987
  2. Nasim Fauzi , Mencari Leluhur Kita Yang Sejati, Blog Dr Nazim Fauizi
  3. Zaprulkhan , Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, Depok, Raja Grafindo Persada. 2013